Dewasa
ini, mahasiswa selalu dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi daripada
pemuda-pemuda lain yang tidak berstatus sebagai mahasiswa. Lantas, mengapa
pemikiran tersebut dapat muncul? Jika ditelisik lebih lanjut, ternyata semua
hanya karena banyak orang yang menaruh harapan di pundak-pundak mereka.
Merekalah yang dianggap cukup berintelektual untuk menentukan nasib bangsa ini
kedepannya.
Mahasiswa pada hakikatnya jugalah seorang
pemuda. Esensi yang terkandung pada kata “pemuda” tersebut tak lain adalah jiwa
yang tak pernah berhenti menggebu-gebu. Jiwa ini, jika telah tersentuh oleh
intelektual, akan menjadi motor penggerak yang kekuatannya tak usah diragukan
lagi dalam menggerakkan apapun, termasuk dunia ini.
Namun, mahasiswa juga harus memegang
satu kunci agar apa yang mereka punya tak berakibat buruk bagi dirinya sendiri
dan lingkungan sekitarnya, yakni “bertindak cerdas”. Memang sentuhan
intelektual yang dikatakan di awal terhadap mahasiswa itu sendiri seolah-olah
membuat sosok mahasiswa itu sendiri adalah kaum cerdas. Sayang, pernyataan itu
dalam beberapa kasus tidak dapat dijamin kebenarannya.
Berkaitan dengan Bulan Pengurangan
Resiko Bencana, mahasiswa sebenarnya adalah barisan terpenting yang harus
menyemarakkan perayaan ini. Terkhusus bagi mahasiswa di Indonesia, seharusnya
mereka sadar kalau mereka hidup di dearah yang sangat rawan dilanda bencana
sepanjang tahunnya. Letaknya yang diapit beberapa lempeng aktif di dunia membuat
Indonesia sangat rawan gempa, bahkan tak jarang yang menimbulkan tsunami. Indonesia
juga dilewati dua sirkum, yakni sirkum pasifik dan sirkum mediterania sehingga
jejeran gunung api aktif pun ditemukan dari ujung ke ujungnya.
Fakta-fakta tersebut menggambarkan
betapa besar potensi Indonesia untuk dilanda bencana. Belum lagi bencana yang disebabkan
karena ulah manusia, seperti banjir dan tanah longsor, membuat mahasiswa
seharusnya sadar bahwa hal tersebut sangat patut mendapat sorotan.
Pengurangan resiko bencana itu
sendiri adalah suatu sistem pendekatan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi,
dan mengurangi resiko yang disebabkan oleh bencana. Tujuan utamanya untuk
mengurangi resiko fatal di bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan alam, serta
juga pemicu bencana. Sistem ini berlaku global, ditunjukkan dengan dirayakannya
Hari Pengurangan Resiko Bencana setiap tangal 13 Oktober. Seluruh lapisan
masyarakat mutlak merayakannya, apalagi mahasiswa. Semua semata dilakukan untuk
memupuk kesadaran bahwa permasalah ini jangan pernah sekali-kali dipandang
sebelah mata.
Perayaan tersebut telah berlangsung
sejak tahun 2000 di Indonesia. Sudah empat belas tahun semenjak saat itu, namun
hasilnya masih belum dapat dirasakan secara signifikan. Bencana-bencana yang
melanda negeri ini selama beberapa tahun terakhir seperti tsunami di Aceh,
Nias, dan Mentawai, Gunung Merapi, Gunung Sinabung, dan Gunung Kelud yang
meletus, banjir di Jakarta dan Papua, dan masih banyak lagi, semua itu masih
memakan korban jiwa yang banyak. Bangsa ini masih saja belum siap
mengantisipasi bencana-bencana tersebut.
Ditambah lagi jika dibahas khusus
mengenai Gunung Sinabung yang meletus tahun ini, perisiwa tersebut mampu
menggambarkan betapa fatalnya kesalahan yang masyarakat lakukan sehingga mereka
kehilangan banyak hal-hal yang berharga dari hidup mereka, termasuk nyawa.
Parahnya, sembilan dari tujuh belas orang yang meningal dalam musibah tersebut
berada di usia dimana seseorang seharusnya telah menyentuh bangku perkuliahan.
Berdasarkan informasi dari media,
beberapa dari korban tersebut adalah mahasiswa yang ingin mendokumentasikan
amukan sang gunung. Namun sayang, nasib sial menimpa mereka. Mereka digulung
awan panas dan nyawa mereka pun seketika melayang.
Bayangkan saja, ternyata masih ada
mahasiswa yang masih saja bertindak seceroboh itu, yang sama sekali tanpa pikir
panjang. Mereka lebih mengikuti desiran darah muda di nadi mereka dibandingkan
dengan akal sehat yang mereka punya. Jika mereka menggunakan akal sehat mereka,
mereka tak kan mungkin mau mepertaruhkan nyawa hanya untuk hal-hal kecil.
Memang, keberanian mereka layak diancungi jempol. Tetapi bukankah berani saja
tidak cukup? Mereka telah melupakan satu hal yang pemuda seharusnya miliki,
yakni kecerdasan.
Mereka pasti sudah tahu bagaimana
orangtua mereka menangis untuk mereka saat ada hal buruk menimpa mereka. Mereka
pasti juga sudah tahu bahwa masih banyak hal di dunia yang belum dilakukan yang
tak akan lagi dapat dilakukan jika mereka mati. Mereka tahu semua itu, namun
mereka tetap melakukannya. Opportunity
cost-nya terlalu besar dan mereka seharusnya tidak mengambil keputusan
untuk melakukan hal itu, tetapi mereka tak mepedulikannya.
Penjabaran di atas tersebut
berintikan satu masalah, yaitu ada yang
salah dengan pola pikir mereka. Pola pikir inilah yang harus pertama kali
dirubah untuk membuat mahasiswa Indonesia menjadi mahasiswa yang melek bencana.
Percuma jika mereka dibekali pengetahuan mengenai Indonesia Tsunami Warning System (INA-TWS), membuat rumah tahan
gempa, mengantisipasi pembuangan sampah ke sungai, melakukan simulasi bencana,
dan masih banyak lagi, namun pemikiran mereka masih liar dan jauh dari kata
matang.
Sebagai contoh, bayangkan jika
disaat Indonesia Tsunami Warning System
(INA-TWS) mendeteksi gelombang laut datang mendekati daerah mereka, namun
mereka tidak langsung melarikan diri dan memberi peringatan kepada yang lain,
melainkan mencoba melihat langsung seperti apa tsunami itu, maka yang akan
mereka dapat hanyalah celaka. Ilustrasi tersebut menggambarkan dengan jelas
bahwa ternyata pola pikir mahasiswa tersebutlah yang justru menjadi bencana
yang sebenarnya.
Mereka
seolah-olah telah terbiasa mengabaikan segalanya hanya untuk memuaskan jiwa
muda mereka. Jika memang begitu realita yang terjadi, maka yang ada hanyalah
mereka akan mati pada praktiknya.
Jadi, pola pikir bagaimanakah yang
seharusnya mahasiswa miliki? Pola pikir yang mahasiswa seharusnya miliki adalah
pola pikir dimana kata nyawa masih
menjadi sesuatu yang sangat mahal di dalamnya. Mahasiswa harus mencintai nyawa
mereka. Dari cinta tersebutlah akan muncul kepedulian dan berimbas kepada rasa
ingin tahu. Rasa ingin tahu akan membuat mereka melek. Harapannya, mereka mulai
menyadari bagaimana kondisi sebenarnya lingkungan di sekitar mereka yang selama
ini luput dari perhatian mereka, dan akhirnya mulai melakukan tindakan nyata
dalam gerakan pengurangan resiko bencana tersebut.
0 komentar:
Posting Komentar