Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Februari 2015

Pola Pikir Mahasiswa, Bencana yang Sebenarnya

              Dewasa ini, mahasiswa selalu dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi daripada pemuda-pemuda lain yang tidak berstatus sebagai mahasiswa. Lantas, mengapa pemikiran tersebut dapat muncul? Jika ditelisik lebih lanjut, ternyata semua hanya karena banyak orang yang menaruh harapan di pundak-pundak mereka. Merekalah yang dianggap cukup berintelektual untuk menentukan nasib bangsa ini kedepannya.
            Mahasiswa pada hakikatnya jugalah seorang pemuda. Esensi yang terkandung pada kata “pemuda” tersebut tak lain adalah jiwa yang tak pernah berhenti menggebu-gebu. Jiwa ini, jika telah tersentuh oleh intelektual, akan menjadi motor penggerak yang kekuatannya tak usah diragukan lagi dalam menggerakkan apapun, termasuk dunia ini.
            Namun, mahasiswa juga harus memegang satu kunci agar apa yang mereka punya tak berakibat buruk bagi dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya, yakni “bertindak cerdas”. Memang sentuhan intelektual yang dikatakan di awal terhadap mahasiswa itu sendiri seolah-olah membuat sosok mahasiswa itu sendiri adalah kaum cerdas. Sayang, pernyataan itu dalam beberapa kasus tidak dapat dijamin kebenarannya.
            Berkaitan dengan Bulan Pengurangan Resiko Bencana, mahasiswa sebenarnya adalah barisan terpenting yang harus menyemarakkan perayaan ini. Terkhusus bagi mahasiswa di Indonesia, seharusnya mereka sadar kalau mereka hidup di dearah yang sangat rawan dilanda bencana sepanjang tahunnya. Letaknya yang diapit beberapa lempeng aktif di dunia membuat Indonesia sangat rawan gempa, bahkan tak jarang yang menimbulkan tsunami. Indonesia juga dilewati dua sirkum, yakni sirkum pasifik dan sirkum mediterania sehingga jejeran gunung api aktif pun ditemukan dari ujung ke ujungnya.
            Fakta-fakta tersebut menggambarkan betapa besar potensi Indonesia untuk dilanda bencana. Belum lagi bencana yang disebabkan karena ulah manusia, seperti banjir dan tanah longsor, membuat mahasiswa seharusnya sadar bahwa hal tersebut sangat patut mendapat sorotan.
            Pengurangan resiko bencana itu sendiri adalah suatu sistem pendekatan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengurangi resiko yang disebabkan oleh bencana. Tujuan utamanya untuk mengurangi resiko fatal di bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan alam, serta juga pemicu bencana. Sistem ini berlaku global, ditunjukkan dengan dirayakannya Hari Pengurangan Resiko Bencana setiap tangal 13 Oktober. Seluruh lapisan masyarakat mutlak merayakannya, apalagi mahasiswa. Semua semata dilakukan untuk memupuk kesadaran bahwa permasalah ini jangan pernah sekali-kali dipandang sebelah mata.
            Perayaan tersebut telah berlangsung sejak tahun 2000 di Indonesia. Sudah empat belas tahun semenjak saat itu, namun hasilnya masih belum dapat dirasakan secara signifikan. Bencana-bencana yang melanda negeri ini selama beberapa tahun terakhir seperti tsunami di Aceh, Nias, dan Mentawai, Gunung Merapi, Gunung Sinabung, dan Gunung Kelud yang meletus, banjir di Jakarta dan Papua, dan masih banyak lagi, semua itu masih memakan korban jiwa yang banyak. Bangsa ini masih saja belum siap mengantisipasi bencana-bencana tersebut.
            Ditambah lagi jika dibahas khusus mengenai Gunung Sinabung yang meletus tahun ini, perisiwa tersebut mampu menggambarkan betapa fatalnya kesalahan yang masyarakat lakukan sehingga mereka kehilangan banyak hal-hal yang berharga dari hidup mereka, termasuk nyawa. Parahnya, sembilan dari tujuh belas orang yang meningal dalam musibah tersebut berada di usia dimana seseorang seharusnya telah menyentuh bangku perkuliahan.
            Berdasarkan informasi dari media, beberapa dari korban tersebut adalah mahasiswa yang ingin mendokumentasikan amukan sang gunung. Namun sayang, nasib sial menimpa mereka. Mereka digulung awan panas dan nyawa mereka pun seketika melayang.
            Bayangkan saja, ternyata masih ada mahasiswa yang masih saja bertindak seceroboh itu, yang sama sekali tanpa pikir panjang. Mereka lebih mengikuti desiran darah muda di nadi mereka dibandingkan dengan akal sehat yang mereka punya. Jika mereka menggunakan akal sehat mereka, mereka tak kan mungkin mau mepertaruhkan nyawa hanya untuk hal-hal kecil. Memang, keberanian mereka layak diancungi jempol. Tetapi bukankah berani saja tidak cukup? Mereka telah melupakan satu hal yang pemuda seharusnya miliki, yakni kecerdasan.
            Mereka pasti sudah tahu bagaimana orangtua mereka menangis untuk mereka saat ada hal buruk menimpa mereka. Mereka pasti juga sudah tahu bahwa masih banyak hal di dunia yang belum dilakukan yang tak akan lagi dapat dilakukan jika mereka mati. Mereka tahu semua itu, namun mereka tetap melakukannya. Opportunity cost-nya terlalu besar dan mereka seharusnya tidak mengambil keputusan untuk melakukan hal itu, tetapi mereka tak mepedulikannya.   
            Penjabaran di atas tersebut berintikan satu masalah, yaitu ada yang salah dengan pola pikir mereka. Pola pikir inilah yang harus pertama kali dirubah untuk membuat mahasiswa Indonesia menjadi mahasiswa yang melek bencana. Percuma jika mereka dibekali pengetahuan mengenai Indonesia Tsunami Warning System (INA-TWS), membuat rumah tahan gempa, mengantisipasi pembuangan sampah ke sungai, melakukan simulasi bencana, dan masih banyak lagi, namun pemikiran mereka masih liar dan jauh dari kata matang.
            Sebagai contoh, bayangkan jika disaat Indonesia Tsunami Warning System (INA-TWS) mendeteksi gelombang laut datang mendekati daerah mereka, namun mereka tidak langsung melarikan diri dan memberi peringatan kepada yang lain, melainkan mencoba melihat langsung seperti apa tsunami itu, maka yang akan mereka dapat hanyalah celaka. Ilustrasi tersebut menggambarkan dengan jelas bahwa ternyata pola pikir mahasiswa tersebutlah yang justru menjadi bencana yang sebenarnya.
Mereka seolah-olah telah terbiasa mengabaikan segalanya hanya untuk memuaskan jiwa muda mereka. Jika memang begitu realita yang terjadi, maka yang ada hanyalah mereka akan mati pada praktiknya.
            Jadi, pola pikir bagaimanakah yang seharusnya mahasiswa miliki? Pola pikir yang mahasiswa seharusnya miliki adalah pola pikir dimana kata nyawa masih menjadi sesuatu yang sangat mahal di dalamnya. Mahasiswa harus mencintai nyawa mereka. Dari cinta tersebutlah akan muncul kepedulian dan berimbas kepada rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu akan membuat mereka melek. Harapannya, mereka mulai menyadari bagaimana kondisi sebenarnya lingkungan di sekitar mereka yang selama ini luput dari perhatian mereka, dan akhirnya mulai melakukan tindakan nyata dalam gerakan pengurangan resiko bencana tersebut.
Share:

Kamis, 13 November 2014

Saya

Siapakah saya?
Saya adalah manusia, makhluk ciptaan Tuhan yang berharga di mata-Nya. Saya diciptakan segambar dan serupa dengan-Nya. Itu artinya kemulian Tuhan ada di dalam saya dan saya mewarisi sifat-sifat Tuhan. Saya diciptakan dalam citra Tuhan, dan seorang anak Tuhan adalah jati diri saya yang sesungguhnya. Namun, sekalipun saya diciptakan demikian, saya jugalah seorang pendosa, karena dosa adalah nature saya. Saya adalah pewaris dosa Adam dan Hawa. Karenanya, ada kecendrungan dalam diri saya untuk berbuat dosa lagi dan lagi. Saya adalah perusak citra Tuhan.

Mengapa saya ada di dunia ini?
Saya ada di dunia karena demikianlah Tuhan berkehendak. Tuhan memercayakan kepada saya kemuliaan-Nya. Saya berada di sini karena Tuhan ingin berkarya melalui saya, dengan seluruh anugerah yang telah Ia limpahkan kepada saya. Ia ingin saya menjadi anak-Nya yang senantiasa percaya di dalam nama-Nya. Tak peduli apakah saya mau atau tidak, tapi Ia menerima saya apa adanya. Saya ada di dunia untuk menjadi contoh bagaimana seorang penghuni Kerajaan Sorga seharusnya berkelakuan, meskipun saya selalu gagal karena dosa yang terus menyelubungi. Namun, sekali lagi saya katakan, Tuhan tidak mempedulikan dosa-dosa saya. Itulah mengapa kini alasan saya ada di dunia ini adalah untuk menunjukkan kepada seluruh yang hidup bagaimana indah dan besarnya kasih karunia Tuhan, yang Ia berikan semata hanya karena kasih-Nya yang agung, dan saya pun beroleh keselamatan.

Kemana saya menuju?
Karena saya telah beroleh keselamatan, maka tujuan hidup saya kini adalah berusaha menjadi seorang dengan jati diri saya yang sesungguhnya, yaitu anak Tuhan. Saya akan menuju suatu kehidupan baru, berusaha beranjak dari kehidupan lama saya yang sangat fana. Saya mau menjadi seseorang yang telah dilahirkan kembali, karena itulah satu-satunya jalan agar saya memasuki kehidupan yang telah Tuhan siapkan. Setelah itu, saya ingin menjadi seseorang yang berkarya di dalam Tuhan. Saya ingin menggunakan seluruh anugerah Tuhan untuk menjadi pekerja dan pelayan-Nya di dunia. Saya akan menuju kesana, dan saya melakukannya bukan untuk kemulian saya, melainkan kemuliaan Tuhan.

Share:

Pohpohan : Fakta Menarik si Tumbuhan Ajaib

Pohpohan (Pilea melastomoides) adalah tumbuhan dari genus Pilea yang banyak terdapat di Indonesia. Tumbuhan ini berupa tumbuhan perdu. Tumbuhan ini pada umumnya masih tumbuh secara liar. Warna daunnya hijau segar, dengan tekstur daun yang lembut dan berserat halus. Ia juga memiliki aroma yang harum dan rasa yang sangat segar, membuatnya kerap kali dijadikan lalapan.

Pohpohan ini ternyata menyimpan sejuta manfaat karena kandungannya yang sangat kompleks dan baik bagi tubuh. Ia memiliki kandungan kalsium yang sangat tinggi, 744,0 miligram untuk setiap 100 gramnya. Jika dibandingkan dengan daun katuk yang kandungan kalsiumnya hanya 540 miligram untuk setiap 100 gramnya dan daun singkong 165 miligram, dan daun bayam 267 gram, maka tumbuhan sangat layak menjadi alternatif untuk dikonsumsi sehari-harinya.

Kalsium sangat dibutuhkan oleh manusia, khususnya bagi anak-anak untuk pertumbuhan dan pembentukan tulang dan gigi. Rasanya yang menyerupai buah-buahan membuat anak-anak mungkin saja menggemarinya. Mengingat persentase anak-anak yang menggemari sayur-sayuran sangat kecil, pohpohan dapat dimasukkan oleh orangtua ke dalam daftar menu untuk si kecil.
 
Selain kalsium, kandungan lainnya yang tak kalah penting adalah protein. Kandungan proteinnya mencapai 2,5 gram untuk setiap 100 gramnya. Protein juga memegang peran penting dalam tubuh manusia, terutama untuk kehidupan sel-sel di dalam tubuh. Kadarnya yang cukup tinggi membuatnya dapat menjadi salah satu sumber protein nabati yang prospektif.

Pohpohan juga mengandung energi, lemak, dan karbohidrat. Kandungan tersebut memang persentasenya tergolong kecil, namun tetap saja memiliki efek bagi tubuh. Data tersebut membuat pohpohan juga cocok dijadikan camilan di sela-sela waktu kosong yang menyehatkan.

Tidak berhenti sampai disitu, kandungan mineral di dalam pohpohan ternyata tidak hanya kalsium saja. Pohpohan juga memiliki fosfor 80 miligram untuk setiap 100 gramnya dan besi 5,9 miligram. Fosfor jugalah komponen sentral bagi tubuh. Fosfor dalam bentuk ion adalah pembentuk senyawa Adenosin Triposphat (ATP) yang menjadi sumber energi sel menjalankan aktivitasnya. Tak mau kalah, besi juga berperan penting dalam menjaga kondisi tubuh. Seseorang yang kekurangan besi akan terlihat mengalami gejala 5 L, yakni lesu, lemas, lelah, letih, dan lunglai.
 
Pohpohan juga memiliki vitamin-vitamin yang penting bagi tubuh. Ia memiliki vitamin A, vitamin B1, dan vitamin C. Vitamin A sangat baik untuk kesehatan mata, vitamin B1 dapat membuat tubuh terasa fit, dan vitamin C dapat membuat tubuh tidak mudah terserang penyakit.

Seluruh kandungan yang dimilikinya membuatnya dapat dikatakan sebagai “tumbuhan ajaib”. Bahkan, tak sedikit juga yang menjulukinya susu alternatif. Semua pendapat tersebut memang bukan sembarang gurauan melihat fakta-fakta yang telah tersaji di atas.
 
Bukan hanya masyarakat biasa, para pecinta alam juga sering memanfaatkannya sebagai sumber makanan saat sedang berada di alam bebas. Habitatnya yang memang dapat dengan mudah dijumpai di hutan, membuatnya menjadi salah satu tumbuhan penyelamat bagi mereka untuk bertahan. Biasanya, tumbuhan ini dimakan begitu saja tanpa diolah terlebih dahulu agar kesegarannya tetap terjaga. Kandungan airnya yang cukup tinggi, sekitar 87,4 gram untuk setiap 100 gramnya juga membuatnya sering digunakan sebagai pencegah dahaga.
  
Sayang, belum ada upaya nyata dari masyarakat untuk membudidayakan tumbuhan ajaib ini secara khusus. Tumbuhan ini masih tumbuh liar di hutan, ladang, dan pekarangan tertentu saja. Hal itu berakibat hanya sebagian orang saja yang dapat merasakan manfaatnya, sedangkan yang lain tidak.
  
Mereka yang memiliki pohpohan di pekarangannya pun hanya menjadikannya sebagai konsumsi pribadi sehingga tumbuhan ini masih sulit ditemukan diperjualbelikan secara bebas. Andaisaja ada yang mau berinisiatif membawakan tumbuhan ini sebagai salah satu sayuran pada masyarakat luas, maka hidup sehat bukanlah lagi menjadi sesuatu yang mahal.

Share: