Jumat, 15 November 2013

Rancangan untuk Meraih Bintang


Masa depan cerah? Siapa saja pasti menginginkan impian terbesar dan paling mendasar tersebut dapat terwujud. Namun, tentu tidaklah setiap orang mampu mewujudkannya. Sebenarnya, banyak faktor yang mampu mengindikasikan bagaimana masa depan seseorang. Salah satunya adalah bagaimana cara seseorang tersebut memandang sebuah masalah.
Adalah sebuah opini nyata mengatakan bahwa indah atau tidaknya hidup seseorang ditentukan oleh cara pandang orang tersebut. Jelas sekali, bahwa yang namanya hidup tidak pernah selalu indah, dan juga tidak pernah selalu buruk. Berdasarkan konteks ini, semakin jelaslah bahwa semuanya itu hanya sebatas bagaimana cara seseorang tersebut memandangnya, memandang hidupnya tersebut. Orang yang hanya selalu memandang hidup dari buruknya saja akan pesimis, dan ujung ujungnya? Gagal! Orang yang hanya selalu memandang hidup dari indahnya saja, akan terlalu santai, dan lagi lagi ujungnya? Gagal!
Untuk itu diperlukanlah suatu sifat yang disebut bijaksana dan suatu prinsip yang disebut keseimbangan, yang menjadi pegangan seseorang dalam memandang segala sesuatunya didalam hidup, sebab yang namanya masalah akan senantiasa menemani didalam perjalanan panjang hidup seseorang.
Masalah, sebetulnya merupakan pendorong yang sangat baik. Seseorang yang telah menemukan masalah tentulah akan terpacu dirinya untuk memecahkannya. Yang dalam hal ini, masalah tersebut, seperti yang telah dikatakan diawal tadi, yaitu masa depan cerah.
Masa depan cerah pada dasarnya memiliki tiga komponen utama, yakni impian, talenta, dan tindakan. Sekilas, tiga komponen tersebut sangat kompleks. Hal tersebut dikarenakan cara menyatakannya yang memang juga kompleks. Ke-kompleks-an tersebutlah yang sering membuat orang langsung patah semangat, tidak mau lagi berjuang untuk masa depannya sendiri. Kalau gitu, coba cara pandang tersebut diubah, menjadi sebuah ilustrasi yang menarik dan terlihat mudah.
Anggaplah impian tersebut adalah sebuah bintang terang yang jauh diangkasa, talenta adalah sebuah tangga kuat yang sangat tinggi, setinggi bintang tersebut, dan tindakan adalah sebuah dinding, dinding yang menetukan seseorang mampu meraih bintang tersebut atau tidak.
            Berdasarkan ilustrasi tersebut, mungkin banyak pola pikir yang telah diubah. Kenapa? Karena cara memandang terhadap masalah tersebut pun telah berubah, menjadi lebih sederhana.
            Ilustrasi tersebut menjelaskan sebuah kesimpulan dari masalah yang dibahas saat ini, yaitu bagaimana cara meraih bintang. Sebelum itu, seseorang haruslah memiliki bintangnya sendiri. Seseorang tersebut juga harus yakin terhadap bintangnya, oleh karena itu, bintangnya haruslah bintang yang paling tinggi, paling bercahaya, paling indah, sehingga semakin termotivasilah untuk meraihnya.
Untuk meraih bintang yang sangat tinggi itu, diperlukanlah sesuatu yang sangat tinggi, namun juga sangat kuat, yang bisa membantu sang peraih bintang tersebut meraih bintangnya. Dalam hal ini, seseorang tersebut telah mempunyai tangga yang sesuai dengan kriteria tersebut.




Namun, itu saja belum cukup, sebab tidaklah mungkin sebuah tangga mampu berdiri tegak dan dapat dinaki jika tidak memiliki sandaran yang kokoh. Untuk itu, orang tersebut haruslah bekerja dengan sangat keras membuat sebuah dinding yang juga harus sangat tinggi dan kokoh, dan nantinya dinding yang sangat kokoh tersebut menjadi sandaran sang tangga, sehinga orang tersebut mampu meraih bintangnya.
            Nah, bagaimana cara membangun dinding yang sangat tinggi dan kokoh tersebut? Itulah yang dalam kenyataan disebut sebagai tindakan. Ingat, bintang (impian) dan tangga (telenta) saja ternyata belum cukup. Dalam perealisasiannya pada dasarnya memang berkonsep seperti di ilustrasi, dimana tangga dan dinding harus saling melengkapi.
Dalam kehidupan nyata, banyak sebenarnya cara yang dapat dilakukan untuk membangun si dinding ini, dan salah satunya adalah dengan menabung! Ada apa dengan menabung? Menabung adalah cara yang tak ada rugi yang ada untung! Apalagi bagi yang masih remaja, hentikan saja hidup foya foyanya, mending buka rekening, sisihkan uang saku, lalu tabung saja.
Karena seperti pepatah mengatakan, “bersakit sakit dahulu, bersenang senang kemudian”. Meskipun, sebenarnya pepatah tersebut tidak terlalu tepat melambangkan kondisi hidup remaja yang menabung. Menabung itu tidaklah sakit. Sebab, dengan menyisihkan sebagian, bukan berati tak mampu lagi menikmati indahnya dunia remaja. Masih bisa, kok! Bahkan, dengan menabung, seseorang dilatih menjadi pribadi yang lebih oke dari yang lainnya, dan itulah yang kelak akan menjadi keunggulan pribadi di masa yang akan datang.
Namun, mungkin timbul lagi pertanyaan, “Bintang yang akan kuraih tinggi, paling hanya berapa persenlah dindingku yang terbangun dari tabunganku yang tak seberapa itu. Sia sia, kah jerih payahku menyisihkan uang sakuku yang sebagian itu?”
Jawabannya, tentu tidak. Seperti yang sudah dikatakan, menabung itu mebentuk kepribadian, dan itu penting! Meskipun sebenarnya masih banyak yang mampu kita peroleh dari menabung sebab sebenarnya manfaat menabung tidak hanya sebatas itu, jika saja dilihat dengan lebih jeli lagi. Jika uang saku ala remaja yang disisihkan tak mampu berbicara banyak dimasa depan, buat ia berbicara banyak dimasa kini.
Bagaimana caranya? Misalkan, uang saku yang dapat disisihkan untuk remaja, katakanlah jika dirata-ratakan  Rp 2.000,-/hari. Untuk itu dalam sebulan, uang yang terkumpul sekitar Rp. 60.000,- dan dalam setahun sekitar Rp 720.000,-. Memang, uang segitu terlihat sia sia untuk usaha selama satu tahun penuh.
Cara pandang yang seperti itulah yang harus diubah! Uang tersebut, tidak perlu disimpan terlalu lama. Gunakan uang tersebut untuk membeli segala sesuatu yang mampu menunjang keuangan layaknya seorang remaja. Kembali lagi ke awal, seseorang yang akan membangun dinding haruslah telah mempunyai tangga sebelumnya. Manfaatkanlah tangga tersebut untuk mebangun dinding yang tinggi. Tangga, yang dalam kehidupan nyata disebut sebagai talenta dapat dijadikan pelengkap yang sempurna. Seseorang yang telah mempunyai talenta, coba gunakan uang hasil sisihan tersebut untuk modal mengikuti kompetisi kompetisi yang sangat banyak diadakan dewasa ini. Jika menang, reward (baik berupa piagam, uang, maupun gadget) tentu akan sangat membantu di masa depan. Uang misalnya, jumlahnya yang tentu jauh lebih banyak dari hasil sisihan uang saku, tentu akan lebih efektif untuk ditabung di bank. Jika hal ini dijadikan rutinitas hidup, dalam arti dilakukan secara terus menerus, akan menghasilkan sebuah dinding yang sangat tinggi dan sangat kokoh, sebagai sandaran tangga untuk meraih bintang.    
Hal hal seperti inilah yang disebut dengan merubah cara pandang. Cara pandang terhadap menabung yang selama ini melekat, ternyata bisa dirubah, dan cara seperti yang diterangkan diatas tersebut adalah salah satu dari banyak cara lainnya. Hasilnya? Menabung pun menjadi jauh lebih efektif.
Dan karena cara yang jauh lebih efektif dari menabung telah didapat dan dilaksanakan tentunya, maka masa depan cerah pun telah ditangan. Jika sudah begini, siapa yang sangka semua masalah ini pada dasarnya hanya sesepele mengatur tangga dan dinding untuk menggapai sesuatu yang dalam hal ini bintang? Meskipun terlihat sepele, namun tanpa disadari, problema dalam hidup memang hanya selalu se-sepele itu. Berat, karena cara pandang yang salah. Setelah diubah, kini masalah tersebut pun dapat dikatakan hanya seperti sebuah dongeng pengantar tidur saja. Jika sudah begitu, munculah apa yang disebut dengan kepercayaan diri terhadap masalah masalah tersebut, dan itu adalah awal dari kesuksesan kelak.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar