Masa depan
cerah? Siapa saja pasti menginginkan impian terbesar dan paling mendasar
tersebut dapat terwujud. Namun, tentu tidaklah setiap orang mampu
mewujudkannya. Sebenarnya, banyak faktor yang mampu mengindikasikan bagaimana
masa depan seseorang. Salah satunya adalah bagaimana cara seseorang tersebut
memandang sebuah masalah.
Adalah sebuah
opini nyata mengatakan bahwa indah
atau tidaknya hidup seseorang ditentukan oleh cara pandang orang tersebut.
Jelas sekali, bahwa yang namanya hidup tidak pernah selalu indah, dan juga
tidak pernah selalu buruk. Berdasarkan konteks ini, semakin jelaslah bahwa
semuanya itu hanya sebatas bagaimana cara seseorang tersebut memandangnya,
memandang hidupnya tersebut. Orang yang hanya selalu memandang hidup dari
buruknya saja akan pesimis, dan ujung ujungnya? Gagal! Orang yang hanya selalu
memandang hidup dari indahnya saja, akan terlalu santai, dan lagi lagi
ujungnya? Gagal!
Untuk itu
diperlukanlah suatu sifat yang disebut bijaksana dan suatu prinsip yang disebut
keseimbangan, yang menjadi pegangan seseorang dalam memandang segala sesuatunya
didalam hidup, sebab yang namanya masalah akan senantiasa menemani didalam
perjalanan panjang hidup seseorang.
Masalah, sebetulnya
merupakan pendorong yang sangat baik. Seseorang yang telah menemukan masalah
tentulah akan terpacu dirinya untuk memecahkannya. Yang dalam hal ini, masalah
tersebut, seperti yang telah dikatakan diawal tadi, yaitu masa depan cerah.
Masa depan cerah pada dasarnya memiliki
tiga komponen utama, yakni impian, talenta, dan tindakan. Sekilas,
tiga komponen tersebut sangat kompleks. Hal tersebut dikarenakan cara
menyatakannya yang memang juga kompleks. Ke-kompleks-an tersebutlah yang sering
membuat orang langsung patah semangat, tidak mau lagi berjuang untuk masa
depannya sendiri. Kalau gitu, coba cara pandang tersebut diubah, menjadi sebuah
ilustrasi yang menarik dan terlihat mudah.
Anggaplah
impian tersebut adalah sebuah bintang terang yang jauh diangkasa,
talenta adalah sebuah tangga kuat yang sangat tinggi, setinggi bintang
tersebut, dan tindakan adalah sebuah dinding, dinding yang menetukan seseorang
mampu meraih bintang tersebut atau tidak.
Berdasarkan
ilustrasi tersebut, mungkin banyak pola pikir yang telah diubah. Kenapa? Karena
cara memandang terhadap masalah tersebut pun telah berubah, menjadi lebih
sederhana.
Ilustrasi
tersebut menjelaskan sebuah kesimpulan dari masalah yang dibahas saat ini,
yaitu bagaimana cara meraih bintang.
Sebelum itu, seseorang haruslah memiliki bintangnya sendiri. Seseorang tersebut
juga harus yakin terhadap bintangnya, oleh karena itu, bintangnya haruslah
bintang yang paling tinggi, paling bercahaya, paling indah, sehingga semakin
termotivasilah untuk meraihnya.
Untuk meraih
bintang yang sangat tinggi itu, diperlukanlah sesuatu yang sangat tinggi, namun
juga sangat kuat, yang bisa membantu sang peraih bintang tersebut meraih
bintangnya. Dalam hal ini, seseorang tersebut telah mempunyai tangga yang
sesuai dengan kriteria tersebut.
Namun, itu
saja belum cukup, sebab tidaklah mungkin sebuah tangga mampu berdiri tegak dan
dapat dinaki jika tidak memiliki sandaran yang kokoh. Untuk itu, orang tersebut
haruslah bekerja dengan sangat keras membuat sebuah dinding yang juga harus sangat
tinggi dan kokoh, dan nantinya dinding yang sangat kokoh tersebut menjadi
sandaran sang tangga, sehinga orang tersebut mampu meraih bintangnya.
Nah,
bagaimana cara membangun dinding yang sangat tinggi dan kokoh tersebut? Itulah
yang dalam kenyataan disebut sebagai tindakan. Ingat, bintang (impian) dan
tangga (telenta) saja ternyata belum cukup. Dalam perealisasiannya pada
dasarnya memang berkonsep seperti di ilustrasi, dimana tangga dan dinding harus
saling melengkapi.
Dalam
kehidupan nyata, banyak sebenarnya cara yang dapat dilakukan untuk membangun si
dinding ini, dan salah satunya adalah dengan menabung! Ada apa dengan menabung? Menabung adalah cara yang tak ada rugi yang ada untung! Apalagi
bagi yang masih remaja, hentikan saja hidup foya foyanya, mending buka
rekening, sisihkan uang saku, lalu tabung saja.
Karena seperti
pepatah mengatakan, “bersakit sakit
dahulu, bersenang senang kemudian”. Meskipun, sebenarnya pepatah tersebut
tidak terlalu tepat melambangkan kondisi hidup remaja yang menabung. Menabung
itu tidaklah sakit. Sebab, dengan
menyisihkan sebagian, bukan berati tak mampu lagi menikmati indahnya dunia
remaja. Masih bisa, kok! Bahkan, dengan menabung, seseorang dilatih menjadi
pribadi yang lebih oke dari yang
lainnya, dan itulah yang kelak akan menjadi keunggulan pribadi di masa yang
akan datang.
Namun, mungkin
timbul lagi pertanyaan, “Bintang yang akan kuraih tinggi, paling hanya berapa
persenlah dindingku yang terbangun dari tabunganku yang tak seberapa itu. Sia
sia, kah jerih payahku menyisihkan uang sakuku yang sebagian itu?”
Jawabannya, tentu
tidak. Seperti yang sudah dikatakan, menabung itu mebentuk kepribadian, dan itu
penting! Meskipun sebenarnya masih banyak yang mampu kita peroleh dari menabung
sebab sebenarnya manfaat menabung tidak hanya sebatas itu, jika saja dilihat
dengan lebih jeli lagi. Jika uang saku ala remaja yang disisihkan tak mampu
berbicara banyak dimasa depan, buat ia berbicara banyak dimasa kini.
Bagaimana
caranya? Misalkan, uang saku yang dapat disisihkan untuk remaja, katakanlah
jika dirata-ratakan Rp 2.000,-/hari. Untuk itu dalam sebulan, uang
yang terkumpul sekitar Rp. 60.000,- dan dalam setahun sekitar Rp 720.000,-.
Memang, uang segitu terlihat sia sia untuk usaha selama satu tahun penuh.
Cara pandang yang seperti itulah yang harus
diubah! Uang tersebut, tidak perlu disimpan terlalu lama. Gunakan uang
tersebut untuk membeli segala sesuatu yang mampu menunjang keuangan layaknya
seorang remaja. Kembali lagi ke awal, seseorang yang akan membangun dinding haruslah
telah mempunyai tangga sebelumnya. Manfaatkanlah tangga tersebut untuk mebangun
dinding yang tinggi. Tangga, yang dalam kehidupan nyata disebut sebagai talenta
dapat dijadikan pelengkap yang sempurna. Seseorang yang telah mempunyai
talenta, coba gunakan uang hasil sisihan tersebut untuk modal mengikuti
kompetisi kompetisi yang sangat banyak diadakan dewasa ini. Jika menang, reward (baik berupa piagam, uang, maupun
gadget) tentu akan sangat membantu di
masa depan. Uang misalnya, jumlahnya yang tentu jauh lebih banyak dari hasil
sisihan uang saku, tentu akan lebih efektif untuk ditabung di bank. Jika hal
ini dijadikan rutinitas hidup, dalam arti dilakukan secara terus menerus, akan
menghasilkan sebuah dinding yang sangat tinggi dan sangat kokoh, sebagai
sandaran tangga untuk meraih bintang.
Hal hal
seperti inilah yang disebut dengan merubah cara pandang. Cara pandang terhadap
menabung yang selama ini melekat, ternyata bisa dirubah, dan cara seperti yang
diterangkan diatas tersebut adalah salah satu dari banyak cara lainnya.
Hasilnya? Menabung pun menjadi jauh lebih efektif.
Dan karena cara yang jauh lebih efektif dari
menabung telah didapat dan dilaksanakan tentunya, maka masa depan cerah pun
telah ditangan. Jika sudah begini, siapa yang sangka semua masalah ini pada
dasarnya hanya sesepele mengatur tangga dan dinding untuk menggapai sesuatu
yang dalam hal ini bintang? Meskipun terlihat sepele, namun tanpa disadari,
problema dalam hidup memang hanya selalu se-sepele itu. Berat, karena cara
pandang yang salah. Setelah diubah, kini masalah tersebut pun dapat dikatakan
hanya seperti sebuah dongeng pengantar tidur saja. Jika sudah begitu, munculah
apa yang disebut dengan kepercayaan diri terhadap masalah masalah tersebut, dan
itu adalah awal dari kesuksesan kelak.
0 komentar:
Posting Komentar