Aku berdiri disana, di senja di kawah Gunung
Sibayak. Kulihat sebuah siluet indah berdiri menatap sang penguasa hari kembali
keperaduannya. Aku mendekati siluet itu. Kupegang pundaknya, dia berbalik
kearahku. Dia tersenyum, dan itu membuatku terbang. Kami bertatapan.
“Aku mencintaimu, Rutenia Aprilia
Hamdenirazrew”, ucapku manis.
“Ih, lengkap banget ya namaku. Aku juga,
Bang Sak”, jawabnya.
Kami tersenyum. Kulihat dia mencoba jinjit
melawan dinginnya suhu puncak. Aku tak tahu dia hendak melakukan apa. Wajahnya
semakin mendekati wajahku. Dia mencium pipiku.
“Sak, Nisak!
Bangun, uda sore! Mandi sana,
gih!”, teriak bundaku dari luar kamar.
“Iya, bun!”,
sahutku.
Aku mencoba
bangkit, melawan tubuh malas ini. Aku duduk di kasurku yang bersepraikan logo
tim bola kesukaanku, Tottenham Hotspur FC. Aku merenung sesaat, aku tak
percaya, hal indah yang baru saja kualami, hanyalah mimpi.
Aku tersenyum
membayangkannya. Ntah kenapa, aku jadi ingin mendengar lagu. Saat aku berdiri
mencoba menemukan handphoneku, aku menggigil.
“Wah, diluar
hujan”, benakku.
Wajar aku
heran, karena perasaan tadi siang, saat aku mencoba untuk tidur, hari sangat
panas. Kontras dengan keadaan saat ini. Aku tidak sadar bahwa aku tertidur
tanpa mengenakan baju, dan saat ini, aku berusaha menemukan bajuku itu dengan
tubuh nyaris kaku. Aku tak dapat menemukannya, yang ketemukan hanyalah,
handphoneku.
Kulihat ada 3
pesan masuk, kuperiksa, dan tidak ada yang penting. Mungkin karena mood-ku yang
memang lagi hancur. Aku pun memutuskan untuk memutar lagu dihandphoneku, dear
God-nya Avenged Sevenfold. Aku
terduduk di kasurku, merenung sesaat.
“Ru, aku
kangen kau!”, ucapku dalam hati.
Ru adalah
orang yang paling kucintai, dia adalah pacarku. Sudah sebulan lebih aku putus
komunikasi dengannya. Dia sedang di Jerman, mencoba melawan penyakit yang
dideritanya. Jantungnya bocor. Sialnya, penyakit yang dideritanya itulah yang
pada awalnya mempertemukan kami, membuat aku menjadi perhatian kepadanya,
sampai kami memutuskan untuk menjalin hubungan.
Hari hariku
tak pernah sekalipun terlewatkan tanpa memandang fotonya yang selalu menghiasi
layar handphoneku. Dia tampak sangat cantik disana, dengan seragam sekolah
rapi, dan jilbab putih bersih, yang seolah semakin membuat elok setiap lekuk
wajahnya. Aku selalu terpesona menatapnya, dan kupastikan juga, aku tak akan
pernah bosan.
“Duaaaaaar!”,
suara petir mengagetkan lamunanku.
Aku pun
memutuskan untuk mandi, berhubung hari memang sudah lewat sore, ditambah suara
teriakan bunda yang dari tadi seolah tak mau kalah dengan lagu yang kuputar
dihandphoneku ini.
Selesai mandi,
aku merasa lapar. Kulihat di lemari es, tidak ada satupun yang bisa ku santap.
Aku pun memutuskan untuk pergi ke swalayan yang jaraknya hanya seratus meter
dari rumahku. Aku segera mengambil jas hujan, dan tak lupa dompet.
Hujan masih
sangat deras. Di perjalanan, kembali lagi aku teringat kepadanya. Aku ingat
dimana kami pernah berteduh di kelasnya sembari menunggu hujan, sambil bermain
congkak. Permainan tradisional itupun seketika tersulap menjadi panggung drama
romansa indah. Suasana sangat manis disana. Tawanya, senyumnya, tingkahnya,
memancarkan kehangatan luar biasa, selalu mampu membuatku nyaman.
Aku telah tiba
diswalayan. Aku melihat lihat camilan disana, tak ada yang menarik perhatianku.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah pojok kanan, disana ada lemari pendingin khusus
es krim. Ntah apa yang merasukiku, aku berjalan ke arah pojokan itu.
“Es krim, dulu
kita sering menikmatinya, Ru. Es krim vanila lapis coklat favoritmu, selalu
saja kau santap dengan lahap hingga kau mengotori bibir indahmu. Namun, aku
tahu kau tidak pernah kawatir, sebab kau tahu aku yang selalu disampingmu,
menikmati caramu menyantap es krim itu, akan senantiasa membersihkan bibirmu,
hanya untuk memastikan senyumanmu, yang pada dasarnya tak pernah luntur itu,
akan senantiasa tetap indah”, kenangku.
Air mataku
terbendung sesaat. Aku akhirnya memutuskan tetap membeli es krim itu, es krim
vanila dengan lapis coklat, semata mata hanya untuk membiarkan kenangan itu
hidup kembali.
Aku bergegas
ke kasir untuk membayar. Aku keluar dari swalayan, dan ternyata hujan tak
kunjung reda. Sebetulnya bisa saja sih aku menerobos hujan tersebut, dengan jas
hujan yang sudah kubawa. Namun, ntah apa yang menahanku untuk tetap disini
sebentar, dan menyantap es krim tersebut.
Orang orang
disekitarku banyak yang melihat aneh kearahku. Mungkin mereka berpikiran aku
orang aneh, yang menikmati es krim ditengan hujan deras. Tapi aku tak peduli.
Aku tetap menyantapnya.
Terlintas kembali kenangan akan dirinya. Pernah disaat suatu hari, dimana suasana hatiku lagi kacau, aku mengasingkan diri ke taman belakang sekolah, duduk disebuah ayunan tua. Saat itu dia menghampiriku, aku tak menghiraukannya. Tapi, dia mengerti aku. Dia tidak pergi, dia berjalan mendekatiku, berdiri dibelakangku, perlahan mendorong ayunan tersebut. Aku menolehnya, dia tersenyum. Hatiku luluh seketika.
“Kau mengerti
aku”, bisikku alam hati.
Keasyikan
melamun, es krimnya pun jadi keburu meleleh. Aku tersadar bahwa hujan telah
berhenti.
“Saatnya
pulang”, pikirku.
Aku
mempercepat melahap es krimku sebelum pulang. Aku menikmatinya, sambil
memejamkan mataku. Sosok indah yang lagi lagi hanya siluet dirinya pun hadir dalam benakku.
Sambil tersenyum, aku berdoa dan teriak dalam hatiku, “Ru, cepat sembuh!”
0 komentar:
Posting Komentar