Minggu, 24 November 2013

Hanya Siluet


            Aku berdiri disana, di senja di kawah Gunung Sibayak. Kulihat sebuah siluet indah berdiri menatap sang penguasa hari kembali keperaduannya. Aku mendekati siluet itu. Kupegang pundaknya, dia berbalik kearahku. Dia tersenyum, dan itu membuatku terbang. Kami bertatapan.

“Aku mencintaimu, Rutenia Aprilia Hamdenirazrew”, ucapku manis.

“Ih, lengkap banget ya namaku. Aku juga, Bang Sak”, jawabnya.

Kami tersenyum. Kulihat dia mencoba jinjit melawan dinginnya suhu puncak. Aku tak tahu dia hendak melakukan apa. Wajahnya semakin mendekati wajahku. Dia mencium pipiku.

“Sak, Nisak! Bangun, uda sore! Mandi sana, gih!”, teriak bundaku dari luar kamar.

“Iya, bun!”, sahutku.

Aku mencoba bangkit, melawan tubuh malas ini. Aku duduk di kasurku yang bersepraikan logo tim bola kesukaanku, Tottenham Hotspur FC. Aku merenung sesaat, aku tak percaya, hal indah yang baru saja kualami, hanyalah mimpi.

Aku tersenyum membayangkannya. Ntah kenapa, aku jadi ingin mendengar lagu. Saat aku berdiri mencoba menemukan handphoneku, aku menggigil.

“Wah, diluar hujan”, benakku.

Wajar aku heran, karena perasaan tadi siang, saat aku mencoba untuk tidur, hari sangat panas. Kontras dengan keadaan saat ini. Aku tidak sadar bahwa aku tertidur tanpa mengenakan baju, dan saat ini, aku berusaha menemukan bajuku itu dengan tubuh nyaris kaku. Aku tak dapat menemukannya, yang ketemukan hanyalah, handphoneku.

Kulihat ada 3 pesan masuk, kuperiksa, dan tidak ada yang penting. Mungkin karena mood-ku yang memang lagi hancur. Aku pun memutuskan untuk memutar lagu dihandphoneku, dear God-nya Avenged Sevenfold. Aku terduduk di kasurku, merenung sesaat.

“Ru, aku kangen kau!”, ucapku dalam hati.

Ru adalah orang yang paling kucintai, dia adalah pacarku. Sudah sebulan lebih aku putus komunikasi dengannya. Dia sedang di Jerman, mencoba melawan penyakit yang dideritanya. Jantungnya bocor. Sialnya, penyakit yang dideritanya itulah yang pada awalnya mempertemukan kami, membuat aku menjadi perhatian kepadanya, sampai kami memutuskan untuk menjalin hubungan.

Hari hariku tak pernah sekalipun terlewatkan tanpa memandang fotonya yang selalu menghiasi layar handphoneku. Dia tampak sangat cantik disana, dengan seragam sekolah rapi, dan jilbab putih bersih, yang seolah semakin membuat elok setiap lekuk wajahnya. Aku selalu terpesona menatapnya, dan kupastikan juga, aku tak akan pernah bosan.

“Duaaaaaar!”, suara petir mengagetkan lamunanku.

Aku pun memutuskan untuk mandi, berhubung hari memang sudah lewat sore, ditambah suara teriakan bunda yang dari tadi seolah tak mau kalah dengan lagu yang kuputar dihandphoneku ini.

Selesai mandi, aku merasa lapar. Kulihat di lemari es, tidak ada satupun yang bisa ku santap. Aku pun memutuskan untuk pergi ke swalayan yang jaraknya hanya seratus meter dari rumahku. Aku segera mengambil jas hujan, dan tak lupa dompet.

Hujan masih sangat deras. Di perjalanan, kembali lagi aku teringat kepadanya. Aku ingat dimana kami pernah berteduh di kelasnya sembari menunggu hujan, sambil bermain congkak. Permainan tradisional itupun seketika tersulap menjadi panggung drama romansa indah. Suasana sangat manis disana. Tawanya, senyumnya, tingkahnya, memancarkan kehangatan luar biasa, selalu mampu membuatku nyaman.

Aku telah tiba diswalayan. Aku melihat lihat camilan disana, tak ada yang menarik perhatianku. Aku mengalihkan pandanganku ke arah pojok kanan, disana ada lemari pendingin khusus es krim. Ntah apa yang merasukiku, aku berjalan ke arah pojokan itu.

“Es krim, dulu kita sering menikmatinya, Ru. Es krim vanila lapis coklat favoritmu, selalu saja kau santap dengan lahap hingga kau mengotori bibir indahmu. Namun, aku tahu kau tidak pernah kawatir, sebab kau tahu aku yang selalu disampingmu, menikmati caramu menyantap es krim itu, akan senantiasa membersihkan bibirmu, hanya untuk memastikan senyumanmu, yang pada dasarnya tak pernah luntur itu, akan senantiasa tetap indah”, kenangku.

Air mataku terbendung sesaat. Aku akhirnya memutuskan tetap membeli es krim itu, es krim vanila dengan lapis coklat, semata mata hanya untuk membiarkan kenangan itu hidup kembali.

Aku bergegas ke kasir untuk membayar. Aku keluar dari swalayan, dan ternyata hujan tak kunjung reda. Sebetulnya bisa saja sih aku menerobos hujan tersebut, dengan jas hujan yang sudah kubawa. Namun, ntah apa yang menahanku untuk tetap disini sebentar, dan menyantap es krim tersebut.

Orang orang disekitarku banyak yang melihat aneh kearahku. Mungkin mereka berpikiran aku orang aneh, yang menikmati es krim ditengan hujan deras. Tapi aku tak peduli. Aku tetap menyantapnya.

Terlintas kembali kenangan akan dirinya. Pernah disaat suatu hari, dimana suasana hatiku lagi kacau, aku mengasingkan diri ke taman belakang sekolah, duduk disebuah ayunan tua. Saat itu dia menghampiriku, aku tak menghiraukannya. Tapi, dia mengerti aku. Dia tidak pergi, dia berjalan mendekatiku, berdiri dibelakangku, perlahan mendorong ayunan tersebut. Aku menolehnya, dia tersenyum. Hatiku luluh seketika.

“Kau mengerti aku”, bisikku alam hati.

Keasyikan melamun, es krimnya pun jadi keburu meleleh. Aku tersadar bahwa hujan telah berhenti.

“Saatnya pulang”, pikirku.

Aku mempercepat melahap es krimku sebelum pulang. Aku menikmatinya, sambil memejamkan mataku. Sosok indah yang lagi lagi hanya siluet dirinya pun hadir dalam benakku.
        
            Sambil tersenyum, aku berdoa dan teriak dalam hatiku, “Ru, cepat sembuh!”


Share:

0 komentar:

Posting Komentar